Sabtu, 03 Oktober 2015

SEMU

Indah begitu memesona
memanjakan mata dari tidur panjang
melunakan hati yang keras bagai baja
melemahkan raga yang garang


manis semanis madu dari reranting pohon
menyapa lembut laksana belaian sutra
tersenyum sepolos sinar rembulan
terucap dari lisan yang tampak pada ulama dan ustadza

namun tak seperti yang terbayang
di angan yang tertinggi tentang sebuah harapan
yang lahir dari mimpi-mimpi

semuanya semu, laksana pandangan mata yang tak sehat
laksana sorban menutupi kemunafikan jiwa
laksana hijab mengiasi nafsu para penikmat dunia
laksana sarung mengarungi para santri berwajah dua

begitu yang sesungguhnya insan yang bermalam saja
keesokan harinya tak ada lagi bulan bersama sepoi malam
hanya merindu kenikmatan semata dari batasan waktu
dan melepas lelah ketika pagi menyapa, lau pergi melanggar aturan

disitulah tampak dan menampakkan keaslian jiwa
yang berucap tak seharusnya diucapkan
yang mengeluh tak seharusnya dikeluhkan
yang tampak tak seharusnya ditampakkan
yang berpura-pura tak seharusnya bermain-main
sungguh nyata pandangan mata dan hati semakin semu


Malang, 30 September 2015
Syahrir Mustafa Sogesika - SMS

Sabtu, 23 Agustus 2014

CINCIN PERMATA UNTUK GADIS BANYUWANGI


Suara kumandang bergemuruh bagai ombak menepis tebing di pesisir pantai dan bagai angin malam yang bercanda di tepi semenanjung. Suara itu masih terdengar ketika sang ratu malam menyapa makhluk bumi yang mondar-mandir dengan beragam kepala. Suara adzan dari rumah tua sungai Brantas yang mengalir tanpa batas. Langkah kaki pemuda itu terus berjalan menemui gadis tanah kramat, tanah Banyuwangi seberang semenanjung. Dialah Petiwi yang lugu.
Sang ratu malam masih menatap pemuda itu dan menemaninya mengarungi malam. Suhu dingin yang menyengat bagai ribuan tawon yang tangguh mengalahkan raksasa. Pemuda itu masih berjalan dengan menggenggam sebuah cincin permata. Penuh harap dirinya bisa sampai di tempat penantian dan menatap wajah ayu gadis yang dicintainya itu. Langkahnya semakin cepat. Keringat mengguyur tubuhnya, walau bukan di siang yang menyengat. Pemuda itu terus berjalan dengan penuh harapan.
“Ya Tuhan. Engkaulah penerang dalam kegelapan hati, Engkaulah penguat jiwa yang rapuh, Engkaulah yang mempertemukan Adam dan Hawa, dan Engkaulah menyirami rasa cinta. Maka jangan Engkau hilangkan rasa cintaku dan cintanya. Jangan Engkau pisahkan hati kami yang sudah berpadu. Jangan Engkau tanamkan keingkaran pada janji-janji kami. Langkahku ini bersama janji suci cincin permata untuk tulang rusuk yang Engkau ambil dariku. Izinkan aku bertemunya dan aku khawatir jika tidak bertemu dengannya. Kembalikan tulang rusukku jika itu terjadi ya Robbi.” Kata pemuda itu dalam hatinya sambil menatap ke rembulan dan sesekali menatap ke bumi.
Linangan air mata pemuda itu mengalir dalam jiwa. Perjalanan itu masih sangat lama. Kakinya terlihat membengkak dan bibirnya mengering bagai ikan yang dijemur di tepi pantai. Terus berjalan melewati toko-toko orang China, Pribumi, dan Zazirah Arab. Tertunduk lesu melihat bangunan-bangunan yang menjulang hingga ke Arsy pencipta. Musik-musik terdengar dari rumah dan bangunan-bangunan itu setelah suara adzan sesaat beristirahat di perpaduannya.
Senyuman kembali menghiasi wajah pemuda itu, ketika menatap rembulan yang menemaninya di malam yang dingin. Tidak sedetik pun ia bernaung untuk memanjakan tubuh, sejenak menghela napas, dan mengeringkan keringatnya. Sedetik terlewati, maka harapan bertemu pujaan hati hanyalah angan belaka. Malam semakin larut, bersama lenyapnya sang bintang. Perjalanan masih panjang. Terlihat pula sang ratu malam mulai menghilang. Rasa cemas semakin menghantui pemuda itu. Ia harus tiba di tempat penantian itu ketika mentari malu-malu untuk muncul dari balik bukit. Namun perjalanan masih jauh dan perlahan malam mulai menghilang bersama redupnya pelita yang kehabisan minyak.
“Ya Tuhanku. Gelapkan hari ini sebelum kakiku sampai padanya. Terangkan hari ini setelah mata menatap tulang rusukku. Cinta ini tak akan hilang walau ditelan waktu dan tak akan lekang oleh panas.” Suara hati pemuda itu dengan langkah yang semakin cepat.
Setiap kali pemuda itu melangkah tujuh belas kali. Ia selalu mengucapkan.
“Ya Tuhanku. Gelapkan hari ini sebelum kakiku sampai padanya. Terangkan hari ini setelah mata menatap tulang rusukku. Cinta ini tak akan hilang walau ditelan waktu dan tak akan lekang oleh panas.”
Ucapan hati itu diiringi air mata. Takut dan cemas ketika terang di balik bukit mendahului langkah kakinya. Suara kumandang yang tadinya sejenak beristirahat, kini terdengar lagi. Suara adzan dari rumah tua sungai Brantas. Pemuda itu terus berjalan dengan membawa cincin permata. Berharap cincin itu menghiasi jari manis gadis Banyuwangi. Gadis yang sering disapa Pertiwi.
Dini hari masih terlihat gelap. Bertepatan dengan 22 Desember hari pertemuan di tempat penantian. Kali ini tidak terdengar tangisan Ibu di pinggir jalan dan di bawah kolong jembatan. Namun kaki pemuda itu semakin lemah dan mulai lambat untuk berjalan. Mukanya pucat dan bibirya terlihat sangat kering.
“Ya Tuhan yang Maha Kuasa. Kuatkan tubuhku ini. Bawalah cintaku hingga memeluk kerinduan dan penantiannya. Hanya satu yang kuminta dari-Mu, biarkan cincin ini sampai di tangannya. Biarkan cincin permata yang suci ini menghiasi jari manisnya. Semunya hanyalah dengan izin-Mu.” Kata pemuda itu yang semakin lemah tubuhnya, karena seharian berjalan.
Jarum panjang belum menunjuk ke balik bukit. Langkah pemuda itu hampir mendekati tempat penantian. Namun tenaganya sudah terkuras selama ia berjalan melewati toko-toko yang menjulang. Seluruh tubuhnya terguyur keringat perjuangan dan keikhlasan. Kakinya semakin membengkak dan wajahnya semakin pucat. Bau keringat dan napas yang tidak segar, membuat semangatnya semakin menggejolak. Gadis Banyuwangi itu bukanlah angan. Ia masih menunggu pemuda itu. Langakah kaki pemuda itu semakin pelan dan matanya seakan mulai sayu. Sampailah ia di tempat penantian bersamaan dengan biasan mentari dari balik bukit. Sekedar senyum ikhlas menatap tempat itu yang sekian lama menghilang dari pandangannya. Namun Gadis Banyuwangi itu belum lekas datang. Beberapa saat kemudian ada suara yang memanggil pemuda itu dari arah matahari terbit.
“Kakang.. kang Jaka.”
Pemuda yang bernama Jaka itu menoleh ke kiri dan ke kanan. Suara itu terdengar lagi. Namun semakin dekat suara itu terdengar.
“Kang Jaka.”
Senyum haru tidak karuan yang dirasakan oleh pemuda itu. Terlihat dari kejahuan, seorang gadis berambut hitam panjang dan berkulit sawo matang. Itulah alasan Jaka berjalan tanpa henti dengan menggenggam sebuah cincin permata. Gadis Banyuwangi itu sekarang di hadapan Jaka.
“Adinda.. dinda Pertiwi. Alangkah bahagianya aku menatap wajahmu. Tapi mengapa wajahmu ada goresan seperti itu? Dulu dinda terlihat mulus dan ayu.” Kata Jaka sambil mengelus-elus wajah Pertiwi.
“Emmm.. apa pun yang ada pada diriku sekarang juga ada pada diriku yang dulu. Jadi sudahlah Kang, yang terpenting sekarang adalah aku bisa bertemu Kang Jaka.” Ucap Pertiwi sambil tersenyum.
Jaka menatap wajah Pertiwi dengan saksama. Matanya semakin sayu. Tubuhnya semakin lemah. Badannya mulai berkeringat. Saat itu mentari menyapa mereka dengan senyuman. Janji suci mereka di tempat itu belum ditepati. Kini ingin ditepati oleh Jaka. Ia membuka genggaman yang terselip cincin permata.
“Dinda. Sekian lama janjiku padamu. Janjiku tentang hiasan di jari manismu. Aku ingin Dinda memakainya dan kita akan hidup semati. Tak ada yang akan memisahkan kita, hanyalah kuasa-Nya.” Ucap Jaka dengan suara yang lembut.
“Tapi Kang..” Pertiwi tertunduk dan terlihat matanya mendung.
“Mengapa gerangan? Dinda lupa dengan janji yang dulu?” Balas Jaka dengan penuh kebingungan.
“Kang Jaka. Saya tidak pernah lupa dengan janji itu. Janji itu yang membawaku ke tempat ini lagi. Hari ini janji kita untuk sehidup semati. Tapi ada yang mengingkari janji itu.”
“Siapa? Siapa? Siapa yang mengingkari janji itu!” Nada Jaka semakin tinggi.
Matahari sudah terlihat di atas ubun-ubun keduanya. Namun Jaka masih bertahan dengan jawaban Pertiwi yang membuatnya cemas. Seakan-akan tenaganya pulih kembali. Pertiwi berjalan ke arah pohon tempat mereka mengukir nama yang dilingkari bentuk cinta.
“Aku ingat sekali ketika Kang Jaka mengukir nama kita di pohon ini. Tapi mungkinkah pohon ini akan menjadi kenangan?”
“Apa maksudmu Pertiwi? Tidak akan ada kenangan hanyalah harapan yang dulu akan menjadi kenyataan.” Tegas Jaka.
“Aku tahu itu Kang. Sekarang ini keadaan yang mengingkari janji suci kita.”
“Keadaan yang seperti apa? Mengapa harus ada pengingkaran janji Dinda? Sepertinya ada yang ditutup-tutupi. Jelaskan semuanya Dinda. Bukankah kita saling terbuka dalam setiap permasalahan?” Tanya Jaka.
“Baiklah Kang. Emmm.. sebenarnya aku sudah berkeluarga dengan pemuda lain.” Jawab Pertiwi dengan nada yang rendah.
“hhaa?” Jaka memasang wajah yang sedih.
Percakapan itu mengantarkan sang mentari ke perpaduannya. Jaka berbalik arah dan menatap biasan cahaya merah jingga. Terlihat indah dengan mata yang mendung. Terasa nyaman dengan hati tersakiti. Cincin permata itu digenggam kembali oleh Jaka. Ia melangkah tujuh belas kali ke arah matahari tenggelam dengan ucapan kepada Pencipta.
“Mataku kini telah memandang. Ragaku kini di sini untuk menepati janji. Lisanku telah mengucapkan kata cinta. Semuanya telah aku tepati janjiku padanya. Bawalah aku untuk menemuinya lagi di alam yang tak pernah diketahui orang lain. Biarkan aku yang menjaga tulang rusukku.” Ucap Jaka sambil berlinang air mata.
Untaian kalimat Jaka mengakhiri hidupnya. Ia terjatuh dan matahari pun tenggelam di ufuk barat. Cincin itu masih digenggamannya. Tidak ia lepaskan walau sukmanya telah pergi bersama mentari sore itu. Di bawah pohon Pertiwi belum sadar bahwa sukma Jaka telah pergi meninggalkannya. Begitu kagetnya ketika matanya menatap tubuh Jaka terlentang di atas hamparan rumput yang hijau berseri.
“Kang Jaka.. Kang Jakaaaa. Jangan tinggalkan Pertiwi. Pertiwi tidak pernah mengingkari janji suci kita. Pertiwi hanya ingin membahagiakan orang tua, Kang. Cinta Pertiwi tak akan hilang walau ditelan waktu dan tak akan lekang oleh panas.” Ucap Pertiwi sambil memeluk tubuh Jaka.
Hari semakin gelap. Namun tidak berhenti kesedihan Pertiwi. Tangan kanan Jaka masih tergenggam cincin permata. Pertiwi membuka genggaman Jaka dan mengambil cincin itu. Ia pun lekas memakai di jari manisnya. Semuanya terasa menyenangkan walau kini Jaka tidak hidup bersamanya. Namun cincin permata itu akan selalu ada di jari manis Pertiwi hingga nanti.
Sejak waktu itu, Pertiwi paham arti sebuah cinta. Cinta tulus dari Jaka yang dapat menghiasi cincin permata itu di jari manis Pertiwi. Dialah gadis manis tanah Banyuwangi.

Malang, 18 Mei 2014
SEBUAH CERPEN
Karya: SYAHRIR MUSTAFA SOGESIKA

Senin, 25 November 2013

puisi


NARKOBA
Oleh : Syahrir Mustafa
Wahai umat sejagat raya
Wahai gerangan ayu nan permai
Wahai gerangan yang perkasa
Dengarkan suara-Nya yang tak dapat didengar
Dengarkan bisikan-Nya yang tak dapat bising
Inilah pesan-Nya lewat syair dan syiar
“hai orang-orang yang beriman, tinggalkan hal-hal yang buruk,
Semua itu berdampak buruk pula pada dirimu, di dunia dan akhirat,
Jika engkau sudah terjatuh di lubang itu, maka jangan kembali lagi untuk yang kedua kalinya,
Dan jika engkau belum terjerumus ke dalamnya, maka jangan menghampiri lubang itu,
Itu adalah NARKOBA.....
Yaitu narkotika, psikotropika dan bahan adiktif lainnya”
Wahai umat sejagat raya
Kembalillah di jalan yang diridhoi-Nya,
Jika engkau tersesat di dalam hutan blantaran.
Bangkitlah,,, jika engkau terjatuh di atas hamparan daun ganja dan butir-butir obat terlarang.
Berlabulah di rumah Tuhanmu, jika engkau terlanjur berlayar di lautan khamar atau minuman yang memabukan.

Rabu, 23 Oktober 2013

puisi


CALON PAHLAWAN DUNIA
Oleh : Syahrir Mustafa


Perjalanan terasa manis
Saat dibaluti putih abu
Senyum terlihat indah
Saat canda tawa dalam kehampaan

Namun itu, gerbang masih tertutup
Mencoba mengintip di balik sana
Sangat luas dunia ini
Di sana tidak ada yang berdiri
Semuanya tertunduk pada satu harapan
Menunggu suara dan arahan

Dari sini,
Terhalang gerbang yang tinggi
Ditaburi berbagai duri
Rasanya pasrah untuk didaki

Namun mereka di sana
Menunggu suatu harapan
Hati ini tak tega menatap pasrah
Harus didaki dan terluka
Itu akan jadi penawar kerinduan mereka




Kini aku, dia, mereka dan kamu berbalik
Menghapus tetesan kesediha ini
Coba mengambil sehelai daun
Dan mencabut yang tercantap di dinding
Kita coba untuk memulai
Menggores dengan keikhlasan hati
Menghilangkan jejak yang menyimpang
Memberi warna disetiap sudut
Dan menyampaikan kebenaran disetiap goresan

Kini mereka tersenyum riang
Mengepalkan tangan
Dengan suara yang lantang
Mereka akan berdiri di depan
Menyampaikan kesan dan peasan

Anak bangsa harus diselamatkan

Jumat, 18 Oktober 2013

Tugas Belajar dan Pembelajaran


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
Oleh : Syahrir Mustafa
201210080311059
Mata Pelajaran           : Bahasa dan Sastra Indonesia
Materi                          : Pantun
Kelas / Semester         : XII/II
Pertemuan ke-            :
Alokasi waktu             : 2×45 menit
Indikator:
  1. Mampu mengelompokkan puisi lama (Pantun) berdasarkan tema
  2. Mempu menganalisis diksi dan gaya bahasa yang terdapat dalam isi pantun
  3. Mampu menganalisis citraan yang digunakan dalam isi pantun
  4. Mampu menganalisis tipografi, irama, dan rima yang digunakan dalam isi pantun
Tujuan Pembelajaran:
  1. Siswa mampu mengelompokkan puisi lama (Pantun) berdasarkan tema.
  2. Siswa mampu menganalisis diksi dan gaya bahasa yang terdapat dalam isi pantun
  3. Siswa mampu menganalisis citraan yang digunakan dalam isi pantun
  4. Siswa mampu menganalisis tipografi, irama, dan rima yang digunakan dalam isi pantun
Model dan Metode Pembelajaran:
  1. Model Demonstrasi
  2. Metode Penugasan
  3. Metode Tanya Jawab
  4. Metode Ceramah
  5. Metode Diskusi
  6. Metode Unjuk kerja

STRATEGI PEMBELAJARAN
1. Tatap Muka (Memahami isi teks bacaan drama yang disampaikan secara langsung atau       tidak langsung)
2. Terstruktur (Menuliskan isi drama dengan topik tertentu dalam beberapa kalimat dengan urutan yang runtut dan mudah dipahami)
3. Mandiri (Mengajukan pertanyaan/ tanggapan berdasarkan informasi yang didengar menyetujui, menolak, menambahkan pendapat)

KEGIATAN PEMBELAJARAN
a. Pendahuluan ( 10 menit )
1) Pemotivasian         :
menunjukkan bahan yang biasanya dipergunakan dalam pementasan                                       drama
2) Apersepsi               : bertanya jawab tentang proses pembentukan drama yang paling                                            menarik dalam pementasan
3) Guru menyampaikan garis besar tujuan pembelajaran

b. Kegiatan Inti ( 60 menit )
1. Menyampaikan informasi tentang kegiatan yang akan dilakukan siswa dalam
kelompok
2. Membagi siswa dalam kelompok (5-6 siswa/kelompok) dan mendistribusikan alat
dan bahan kepada kelompok
3. Membimbing kelompok dalam melakukan pengamatan lebih menyeluruh terhadap sisi baik yang harus dipergunakan dalam pementasan drama
5. Membimbing kelompok merumuskan jawaban sementara (berhipotesis)
6. Membimbing kelompok melakukan observasi, yakni melakukan tes berbicara yang baik dalam drama
7. Membimbing kelompok menganalisis dan merumuskan simpulan yang telah di buat
8. Meminta kelompok mempresentasikan hasil kegiatannya dan hasil yang telah mereka buat
*Catatan: sembari melakukan proses pembimbingan, guru melakukan penilaian sikap
dengan dipandu instrumen lembar penilaian sikap

c. Kegiatan Penutup ( 10 menit )
1. Bersama siswa menyimpulkan hasil pembelajaran hari ini, serta mendorong siswa
untuk selalu teliti dalam sebuah pementasan drama agar telihat baik
2. Guru memberikan penghargaan (misalnya pujian atau bentuk penghargaan lain yang
relevan) kepada kelompok yang berkinerja baik
Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
No
Kegiatan Pembelajaran
Alokasi waktu
Metode
1.
Kegiatan Awal:
  1. Guru memberikan salam kepada siswa
  2. Siswa berdo’a bersama-sama
  3. Guru melakukan presensi kepada siswa
  4. Guru menyampaikan Kompetensi Dasar yang akan dicapai melalui kegiatan pembelajaran
  5. Guru melakukan apersepsi dengan menanyakan puisi lama (pantun) apa yang pernah dibaca siswa, guru menunjukan contoh pantun serta menanyakan hal-hal apa saja yang dapat dianalisis dalam puisi lama (pantun)
  6. Siswa dan guru bertanya jawab mengenai tema, diksi, gaya bahasa, citraan, tipografi, rima, irama dalam isi pantun
20    menit
  1. Metode Tanya jawab
  2. Metode Ceramah
2.
Kegiatan Inti
  1. Siswa membuat kelompok, masing-masing kelompok terdiri atas 7 orang
  2. Siswa bersama guru menentukan pantun yang akan diidentifikasi unsur-unsurnya
  3. Siswa menentukan pembagian tugas masing-masing dalam kelompok untuk menganalisis tema, diksi, gaya bahasa, citraan, tipografi, rima, dan irama dalam isi pantun yang ditentukan
  4. Siswa menganalisis tema, diksi, gaya bahasa, citraan,tipografi, rima dan irama masing-masing puisi di kelompok baru
  5. Siswa berdiskusi kembali di kelompok asal tentang hasil analisis  tema, diksi, gaya bahasa, citraan, tipografi, rima dan irama masing-masing puisi lama (pantun) di kelompok baru
  6. Siswa menyampaikan hasil analisis tentang ciri-ciri pantun secara lisan sebagai perwakilan dari kelompok
  7. Siswa melakukan diskusi bersama dengan kelompok lain dan Tanya jawab  untuk membahas cirri-ciri pantun
  8. Siswa  bersama guru menyimpulkan bersama hasil analisis ciri-ciri pantun
60 menit
  1. Metode Diskusi
  2. Metode Tanya jawab
  3. Model Jigsau
3.
Kegiatan akhir
  1. Guru bersama siswa melakukan evaluasi terhadap proses diskusi tentang analisis cirri-ciri pantun
  2. Guru menanyakan kepada siswa tentang bagaimana kesannya melakukan kegiatan pembelajaran ini melalui penerapkan model jigsau
  3. Guru bersama siswa melakukan refleksi dengan menanyakan manfaat yang dapat diambil dari kegiatan menganalisis isi puisi lama (pantun)
  4. Siswa berdo’a bersama untuk mengakhiri kegiatan belajar
  5. Guru menutup kegiatan pembelajaran dengan salam.
10 menit
  1. Metode Tanya jawab
  2. Metode ceramah

SUMBER PEMBELAJARAN
1. Buku teks
2. Buku referensi
3. Buku Penunjang Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia
4. Buku kumpulan Pantun
5. CD salinan pementasan puisi lama atau kaset rekaman


PENILAIAN :
a. Jenis Tagihan:
1. Tugas individu
2. Ulangan

b. Bentuk Instrumen:
1. Uraian bebas
2. Pilihan ganda
3. Jawaban singkat


Mengetahui                                                                               Oktober,2013
Kepala Sekolah                                                                   Guru Mata Pelajaran

                                                                                               Syahrir Mustafa,
         NIP                                                                         NIM. 201210080311059