Suara
kumandang bergemuruh bagai ombak menepis tebing di pesisir pantai dan bagai
angin malam yang bercanda di tepi semenanjung. Suara itu masih terdengar ketika
sang ratu malam menyapa makhluk bumi yang mondar-mandir dengan beragam kepala.
Suara adzan dari rumah tua sungai Brantas yang mengalir tanpa batas. Langkah
kaki pemuda itu terus berjalan menemui gadis tanah kramat, tanah Banyuwangi
seberang semenanjung. Dialah Petiwi yang lugu.
Sang
ratu malam masih menatap pemuda itu dan menemaninya mengarungi malam. Suhu
dingin yang menyengat bagai ribuan tawon yang tangguh mengalahkan raksasa.
Pemuda itu masih berjalan dengan menggenggam sebuah cincin permata. Penuh harap
dirinya bisa sampai di tempat penantian dan menatap wajah ayu gadis yang
dicintainya itu. Langkahnya semakin cepat. Keringat mengguyur tubuhnya, walau
bukan di siang yang menyengat. Pemuda itu terus berjalan dengan penuh harapan.
“Ya
Tuhan. Engkaulah penerang dalam kegelapan hati, Engkaulah penguat jiwa yang
rapuh, Engkaulah yang mempertemukan Adam dan Hawa, dan Engkaulah menyirami rasa
cinta. Maka jangan Engkau hilangkan rasa cintaku dan cintanya. Jangan Engkau
pisahkan hati kami yang sudah berpadu. Jangan Engkau tanamkan keingkaran pada
janji-janji kami. Langkahku ini bersama janji suci cincin permata untuk tulang
rusuk yang Engkau ambil dariku. Izinkan aku bertemunya dan aku khawatir jika
tidak bertemu dengannya. Kembalikan tulang rusukku jika itu terjadi ya Robbi.”
Kata pemuda itu dalam hatinya sambil menatap ke rembulan dan sesekali menatap
ke bumi.
Linangan
air mata pemuda itu mengalir dalam jiwa. Perjalanan itu masih sangat lama.
Kakinya terlihat membengkak dan bibirnya mengering bagai ikan yang dijemur di
tepi pantai. Terus berjalan melewati toko-toko orang China, Pribumi, dan
Zazirah Arab. Tertunduk lesu melihat bangunan-bangunan yang menjulang hingga ke
Arsy pencipta. Musik-musik terdengar dari rumah dan bangunan-bangunan itu
setelah suara adzan sesaat beristirahat di perpaduannya.
Senyuman
kembali menghiasi wajah pemuda itu, ketika menatap rembulan yang menemaninya di
malam yang dingin. Tidak sedetik pun ia bernaung untuk memanjakan tubuh,
sejenak menghela napas, dan mengeringkan keringatnya. Sedetik terlewati, maka
harapan bertemu pujaan hati hanyalah angan belaka. Malam semakin larut, bersama
lenyapnya sang bintang. Perjalanan masih panjang. Terlihat pula sang ratu malam
mulai menghilang. Rasa cemas semakin menghantui pemuda itu. Ia harus tiba di
tempat penantian itu ketika mentari malu-malu untuk muncul dari balik bukit.
Namun perjalanan masih jauh dan perlahan malam mulai menghilang bersama
redupnya pelita yang kehabisan minyak.
“Ya
Tuhanku. Gelapkan hari ini sebelum kakiku sampai padanya. Terangkan hari ini
setelah mata menatap tulang rusukku. Cinta ini tak akan hilang walau ditelan
waktu dan tak akan lekang oleh panas.” Suara hati pemuda itu dengan langkah
yang semakin cepat.
Setiap
kali pemuda itu melangkah tujuh belas kali. Ia selalu mengucapkan.
“Ya
Tuhanku. Gelapkan hari ini sebelum kakiku sampai padanya. Terangkan hari ini
setelah mata menatap tulang rusukku. Cinta ini tak akan hilang walau ditelan
waktu dan tak akan lekang oleh panas.”
Ucapan
hati itu diiringi air mata. Takut dan cemas ketika terang di balik bukit
mendahului langkah kakinya. Suara kumandang yang tadinya sejenak beristirahat,
kini terdengar lagi. Suara adzan dari rumah tua sungai Brantas. Pemuda itu
terus berjalan dengan membawa cincin permata. Berharap cincin itu menghiasi
jari manis gadis Banyuwangi. Gadis yang sering disapa Pertiwi.
Dini
hari masih terlihat gelap. Bertepatan dengan 22 Desember hari pertemuan di
tempat penantian. Kali ini tidak terdengar tangisan Ibu di pinggir jalan dan di
bawah kolong jembatan. Namun kaki pemuda itu semakin lemah dan mulai lambat
untuk berjalan. Mukanya pucat dan bibirya terlihat sangat kering.
“Ya
Tuhan yang Maha Kuasa. Kuatkan tubuhku ini. Bawalah cintaku hingga memeluk
kerinduan dan penantiannya. Hanya satu yang kuminta dari-Mu, biarkan cincin ini
sampai di tangannya. Biarkan cincin permata yang suci ini menghiasi jari
manisnya. Semunya hanyalah dengan izin-Mu.” Kata pemuda itu yang semakin lemah
tubuhnya, karena seharian berjalan.
Jarum
panjang belum menunjuk ke balik bukit. Langkah pemuda itu hampir mendekati
tempat penantian. Namun tenaganya sudah terkuras selama ia berjalan melewati
toko-toko yang menjulang. Seluruh tubuhnya terguyur keringat perjuangan dan
keikhlasan. Kakinya semakin membengkak dan wajahnya semakin pucat. Bau keringat
dan napas yang tidak segar, membuat semangatnya semakin menggejolak. Gadis Banyuwangi
itu bukanlah angan. Ia masih menunggu pemuda itu. Langakah kaki pemuda itu
semakin pelan dan matanya seakan mulai sayu. Sampailah ia di tempat penantian
bersamaan dengan biasan mentari dari balik bukit. Sekedar senyum ikhlas menatap
tempat itu yang sekian lama menghilang dari pandangannya. Namun Gadis Banyuwangi
itu belum lekas datang. Beberapa saat kemudian ada suara yang memanggil pemuda
itu dari arah matahari terbit.
“Kakang..
kang Jaka.”
Pemuda
yang bernama Jaka itu menoleh ke kiri dan ke kanan. Suara itu terdengar lagi.
Namun semakin dekat suara itu terdengar.
“Kang
Jaka.”
Senyum
haru tidak karuan yang dirasakan oleh pemuda itu. Terlihat dari kejahuan,
seorang gadis berambut hitam panjang dan berkulit sawo matang. Itulah alasan
Jaka berjalan tanpa henti dengan menggenggam sebuah cincin permata. Gadis Banyuwangi
itu sekarang di hadapan Jaka.
“Adinda..
dinda Pertiwi. Alangkah bahagianya aku menatap wajahmu. Tapi mengapa wajahmu
ada goresan seperti itu? Dulu dinda terlihat mulus dan ayu.” Kata Jaka sambil
mengelus-elus wajah Pertiwi.
“Emmm..
apa pun yang ada pada diriku sekarang juga ada pada diriku yang dulu. Jadi
sudahlah Kang, yang terpenting sekarang adalah aku bisa bertemu Kang Jaka.”
Ucap Pertiwi sambil tersenyum.
Jaka
menatap wajah Pertiwi dengan saksama. Matanya semakin sayu. Tubuhnya semakin
lemah. Badannya mulai berkeringat. Saat itu mentari menyapa mereka dengan
senyuman. Janji suci mereka di tempat itu belum ditepati. Kini ingin ditepati
oleh Jaka. Ia membuka genggaman yang terselip cincin permata.
“Dinda.
Sekian lama janjiku padamu. Janjiku tentang hiasan di jari manismu. Aku ingin
Dinda memakainya dan kita akan hidup semati. Tak ada yang akan memisahkan kita,
hanyalah kuasa-Nya.” Ucap Jaka dengan suara yang lembut.
“Tapi
Kang..” Pertiwi tertunduk dan terlihat matanya mendung.
“Mengapa
gerangan? Dinda lupa dengan janji yang dulu?” Balas Jaka dengan penuh
kebingungan.
“Kang
Jaka. Saya tidak pernah lupa dengan janji itu. Janji itu yang membawaku ke
tempat ini lagi. Hari ini janji kita untuk sehidup semati. Tapi ada yang
mengingkari janji itu.”
“Siapa?
Siapa? Siapa yang mengingkari janji itu!” Nada Jaka semakin tinggi.
Matahari
sudah terlihat di atas ubun-ubun keduanya. Namun Jaka masih bertahan dengan
jawaban Pertiwi yang membuatnya cemas. Seakan-akan tenaganya pulih kembali.
Pertiwi berjalan ke arah pohon tempat mereka mengukir nama yang dilingkari
bentuk cinta.
“Aku
ingat sekali ketika Kang Jaka mengukir nama kita di pohon ini. Tapi mungkinkah
pohon ini akan menjadi kenangan?”
“Apa
maksudmu Pertiwi? Tidak akan ada kenangan hanyalah harapan yang dulu akan
menjadi kenyataan.” Tegas Jaka.
“Aku
tahu itu Kang. Sekarang ini keadaan yang mengingkari janji suci kita.”
“Keadaan
yang seperti apa? Mengapa harus ada pengingkaran janji Dinda? Sepertinya ada
yang ditutup-tutupi. Jelaskan semuanya Dinda. Bukankah kita saling terbuka
dalam setiap permasalahan?” Tanya Jaka.
“Baiklah
Kang. Emmm.. sebenarnya aku sudah berkeluarga dengan pemuda lain.” Jawab Pertiwi
dengan nada yang rendah.
“hhaa?”
Jaka memasang wajah yang sedih.
Percakapan
itu mengantarkan sang mentari ke perpaduannya. Jaka berbalik arah dan menatap
biasan cahaya merah jingga. Terlihat indah dengan mata yang mendung. Terasa
nyaman dengan hati tersakiti. Cincin permata itu digenggam kembali oleh Jaka.
Ia melangkah tujuh belas kali ke arah matahari tenggelam dengan ucapan kepada
Pencipta.
“Mataku
kini telah memandang. Ragaku kini di sini untuk menepati janji. Lisanku telah
mengucapkan kata cinta. Semuanya telah aku tepati janjiku padanya. Bawalah aku
untuk menemuinya lagi di alam yang tak pernah diketahui orang lain. Biarkan aku
yang menjaga tulang rusukku.” Ucap Jaka sambil berlinang air mata.
Untaian
kalimat Jaka mengakhiri hidupnya. Ia terjatuh dan matahari pun tenggelam di
ufuk barat. Cincin itu masih digenggamannya. Tidak ia lepaskan walau sukmanya
telah pergi bersama mentari sore itu. Di bawah pohon Pertiwi belum sadar bahwa
sukma Jaka telah pergi meninggalkannya. Begitu kagetnya ketika matanya menatap
tubuh Jaka terlentang di atas hamparan rumput yang hijau berseri.
“Kang
Jaka.. Kang Jakaaaa. Jangan tinggalkan Pertiwi. Pertiwi tidak pernah
mengingkari janji suci kita. Pertiwi hanya ingin membahagiakan orang tua, Kang.
Cinta Pertiwi tak akan hilang walau ditelan waktu dan tak akan lekang oleh
panas.” Ucap Pertiwi sambil memeluk tubuh Jaka.
Hari
semakin gelap. Namun tidak berhenti kesedihan Pertiwi. Tangan kanan Jaka masih
tergenggam cincin permata. Pertiwi membuka genggaman Jaka dan mengambil cincin
itu. Ia pun lekas memakai di jari manisnya. Semuanya terasa menyenangkan walau
kini Jaka tidak hidup bersamanya. Namun cincin permata itu akan selalu ada di
jari manis Pertiwi hingga nanti.
Sejak
waktu itu, Pertiwi paham arti sebuah cinta. Cinta tulus dari Jaka yang dapat
menghiasi cincin permata itu di jari manis Pertiwi. Dialah gadis manis tanah
Banyuwangi.
Malang,
18 Mei 2014
SEBUAH CERPEN
Karya: SYAHRIR MUSTAFA SOGESIKA