Sabtu, 23 Agustus 2014

CINCIN PERMATA UNTUK GADIS BANYUWANGI


Suara kumandang bergemuruh bagai ombak menepis tebing di pesisir pantai dan bagai angin malam yang bercanda di tepi semenanjung. Suara itu masih terdengar ketika sang ratu malam menyapa makhluk bumi yang mondar-mandir dengan beragam kepala. Suara adzan dari rumah tua sungai Brantas yang mengalir tanpa batas. Langkah kaki pemuda itu terus berjalan menemui gadis tanah kramat, tanah Banyuwangi seberang semenanjung. Dialah Petiwi yang lugu.
Sang ratu malam masih menatap pemuda itu dan menemaninya mengarungi malam. Suhu dingin yang menyengat bagai ribuan tawon yang tangguh mengalahkan raksasa. Pemuda itu masih berjalan dengan menggenggam sebuah cincin permata. Penuh harap dirinya bisa sampai di tempat penantian dan menatap wajah ayu gadis yang dicintainya itu. Langkahnya semakin cepat. Keringat mengguyur tubuhnya, walau bukan di siang yang menyengat. Pemuda itu terus berjalan dengan penuh harapan.
“Ya Tuhan. Engkaulah penerang dalam kegelapan hati, Engkaulah penguat jiwa yang rapuh, Engkaulah yang mempertemukan Adam dan Hawa, dan Engkaulah menyirami rasa cinta. Maka jangan Engkau hilangkan rasa cintaku dan cintanya. Jangan Engkau pisahkan hati kami yang sudah berpadu. Jangan Engkau tanamkan keingkaran pada janji-janji kami. Langkahku ini bersama janji suci cincin permata untuk tulang rusuk yang Engkau ambil dariku. Izinkan aku bertemunya dan aku khawatir jika tidak bertemu dengannya. Kembalikan tulang rusukku jika itu terjadi ya Robbi.” Kata pemuda itu dalam hatinya sambil menatap ke rembulan dan sesekali menatap ke bumi.
Linangan air mata pemuda itu mengalir dalam jiwa. Perjalanan itu masih sangat lama. Kakinya terlihat membengkak dan bibirnya mengering bagai ikan yang dijemur di tepi pantai. Terus berjalan melewati toko-toko orang China, Pribumi, dan Zazirah Arab. Tertunduk lesu melihat bangunan-bangunan yang menjulang hingga ke Arsy pencipta. Musik-musik terdengar dari rumah dan bangunan-bangunan itu setelah suara adzan sesaat beristirahat di perpaduannya.
Senyuman kembali menghiasi wajah pemuda itu, ketika menatap rembulan yang menemaninya di malam yang dingin. Tidak sedetik pun ia bernaung untuk memanjakan tubuh, sejenak menghela napas, dan mengeringkan keringatnya. Sedetik terlewati, maka harapan bertemu pujaan hati hanyalah angan belaka. Malam semakin larut, bersama lenyapnya sang bintang. Perjalanan masih panjang. Terlihat pula sang ratu malam mulai menghilang. Rasa cemas semakin menghantui pemuda itu. Ia harus tiba di tempat penantian itu ketika mentari malu-malu untuk muncul dari balik bukit. Namun perjalanan masih jauh dan perlahan malam mulai menghilang bersama redupnya pelita yang kehabisan minyak.
“Ya Tuhanku. Gelapkan hari ini sebelum kakiku sampai padanya. Terangkan hari ini setelah mata menatap tulang rusukku. Cinta ini tak akan hilang walau ditelan waktu dan tak akan lekang oleh panas.” Suara hati pemuda itu dengan langkah yang semakin cepat.
Setiap kali pemuda itu melangkah tujuh belas kali. Ia selalu mengucapkan.
“Ya Tuhanku. Gelapkan hari ini sebelum kakiku sampai padanya. Terangkan hari ini setelah mata menatap tulang rusukku. Cinta ini tak akan hilang walau ditelan waktu dan tak akan lekang oleh panas.”
Ucapan hati itu diiringi air mata. Takut dan cemas ketika terang di balik bukit mendahului langkah kakinya. Suara kumandang yang tadinya sejenak beristirahat, kini terdengar lagi. Suara adzan dari rumah tua sungai Brantas. Pemuda itu terus berjalan dengan membawa cincin permata. Berharap cincin itu menghiasi jari manis gadis Banyuwangi. Gadis yang sering disapa Pertiwi.
Dini hari masih terlihat gelap. Bertepatan dengan 22 Desember hari pertemuan di tempat penantian. Kali ini tidak terdengar tangisan Ibu di pinggir jalan dan di bawah kolong jembatan. Namun kaki pemuda itu semakin lemah dan mulai lambat untuk berjalan. Mukanya pucat dan bibirya terlihat sangat kering.
“Ya Tuhan yang Maha Kuasa. Kuatkan tubuhku ini. Bawalah cintaku hingga memeluk kerinduan dan penantiannya. Hanya satu yang kuminta dari-Mu, biarkan cincin ini sampai di tangannya. Biarkan cincin permata yang suci ini menghiasi jari manisnya. Semunya hanyalah dengan izin-Mu.” Kata pemuda itu yang semakin lemah tubuhnya, karena seharian berjalan.
Jarum panjang belum menunjuk ke balik bukit. Langkah pemuda itu hampir mendekati tempat penantian. Namun tenaganya sudah terkuras selama ia berjalan melewati toko-toko yang menjulang. Seluruh tubuhnya terguyur keringat perjuangan dan keikhlasan. Kakinya semakin membengkak dan wajahnya semakin pucat. Bau keringat dan napas yang tidak segar, membuat semangatnya semakin menggejolak. Gadis Banyuwangi itu bukanlah angan. Ia masih menunggu pemuda itu. Langakah kaki pemuda itu semakin pelan dan matanya seakan mulai sayu. Sampailah ia di tempat penantian bersamaan dengan biasan mentari dari balik bukit. Sekedar senyum ikhlas menatap tempat itu yang sekian lama menghilang dari pandangannya. Namun Gadis Banyuwangi itu belum lekas datang. Beberapa saat kemudian ada suara yang memanggil pemuda itu dari arah matahari terbit.
“Kakang.. kang Jaka.”
Pemuda yang bernama Jaka itu menoleh ke kiri dan ke kanan. Suara itu terdengar lagi. Namun semakin dekat suara itu terdengar.
“Kang Jaka.”
Senyum haru tidak karuan yang dirasakan oleh pemuda itu. Terlihat dari kejahuan, seorang gadis berambut hitam panjang dan berkulit sawo matang. Itulah alasan Jaka berjalan tanpa henti dengan menggenggam sebuah cincin permata. Gadis Banyuwangi itu sekarang di hadapan Jaka.
“Adinda.. dinda Pertiwi. Alangkah bahagianya aku menatap wajahmu. Tapi mengapa wajahmu ada goresan seperti itu? Dulu dinda terlihat mulus dan ayu.” Kata Jaka sambil mengelus-elus wajah Pertiwi.
“Emmm.. apa pun yang ada pada diriku sekarang juga ada pada diriku yang dulu. Jadi sudahlah Kang, yang terpenting sekarang adalah aku bisa bertemu Kang Jaka.” Ucap Pertiwi sambil tersenyum.
Jaka menatap wajah Pertiwi dengan saksama. Matanya semakin sayu. Tubuhnya semakin lemah. Badannya mulai berkeringat. Saat itu mentari menyapa mereka dengan senyuman. Janji suci mereka di tempat itu belum ditepati. Kini ingin ditepati oleh Jaka. Ia membuka genggaman yang terselip cincin permata.
“Dinda. Sekian lama janjiku padamu. Janjiku tentang hiasan di jari manismu. Aku ingin Dinda memakainya dan kita akan hidup semati. Tak ada yang akan memisahkan kita, hanyalah kuasa-Nya.” Ucap Jaka dengan suara yang lembut.
“Tapi Kang..” Pertiwi tertunduk dan terlihat matanya mendung.
“Mengapa gerangan? Dinda lupa dengan janji yang dulu?” Balas Jaka dengan penuh kebingungan.
“Kang Jaka. Saya tidak pernah lupa dengan janji itu. Janji itu yang membawaku ke tempat ini lagi. Hari ini janji kita untuk sehidup semati. Tapi ada yang mengingkari janji itu.”
“Siapa? Siapa? Siapa yang mengingkari janji itu!” Nada Jaka semakin tinggi.
Matahari sudah terlihat di atas ubun-ubun keduanya. Namun Jaka masih bertahan dengan jawaban Pertiwi yang membuatnya cemas. Seakan-akan tenaganya pulih kembali. Pertiwi berjalan ke arah pohon tempat mereka mengukir nama yang dilingkari bentuk cinta.
“Aku ingat sekali ketika Kang Jaka mengukir nama kita di pohon ini. Tapi mungkinkah pohon ini akan menjadi kenangan?”
“Apa maksudmu Pertiwi? Tidak akan ada kenangan hanyalah harapan yang dulu akan menjadi kenyataan.” Tegas Jaka.
“Aku tahu itu Kang. Sekarang ini keadaan yang mengingkari janji suci kita.”
“Keadaan yang seperti apa? Mengapa harus ada pengingkaran janji Dinda? Sepertinya ada yang ditutup-tutupi. Jelaskan semuanya Dinda. Bukankah kita saling terbuka dalam setiap permasalahan?” Tanya Jaka.
“Baiklah Kang. Emmm.. sebenarnya aku sudah berkeluarga dengan pemuda lain.” Jawab Pertiwi dengan nada yang rendah.
“hhaa?” Jaka memasang wajah yang sedih.
Percakapan itu mengantarkan sang mentari ke perpaduannya. Jaka berbalik arah dan menatap biasan cahaya merah jingga. Terlihat indah dengan mata yang mendung. Terasa nyaman dengan hati tersakiti. Cincin permata itu digenggam kembali oleh Jaka. Ia melangkah tujuh belas kali ke arah matahari tenggelam dengan ucapan kepada Pencipta.
“Mataku kini telah memandang. Ragaku kini di sini untuk menepati janji. Lisanku telah mengucapkan kata cinta. Semuanya telah aku tepati janjiku padanya. Bawalah aku untuk menemuinya lagi di alam yang tak pernah diketahui orang lain. Biarkan aku yang menjaga tulang rusukku.” Ucap Jaka sambil berlinang air mata.
Untaian kalimat Jaka mengakhiri hidupnya. Ia terjatuh dan matahari pun tenggelam di ufuk barat. Cincin itu masih digenggamannya. Tidak ia lepaskan walau sukmanya telah pergi bersama mentari sore itu. Di bawah pohon Pertiwi belum sadar bahwa sukma Jaka telah pergi meninggalkannya. Begitu kagetnya ketika matanya menatap tubuh Jaka terlentang di atas hamparan rumput yang hijau berseri.
“Kang Jaka.. Kang Jakaaaa. Jangan tinggalkan Pertiwi. Pertiwi tidak pernah mengingkari janji suci kita. Pertiwi hanya ingin membahagiakan orang tua, Kang. Cinta Pertiwi tak akan hilang walau ditelan waktu dan tak akan lekang oleh panas.” Ucap Pertiwi sambil memeluk tubuh Jaka.
Hari semakin gelap. Namun tidak berhenti kesedihan Pertiwi. Tangan kanan Jaka masih tergenggam cincin permata. Pertiwi membuka genggaman Jaka dan mengambil cincin itu. Ia pun lekas memakai di jari manisnya. Semuanya terasa menyenangkan walau kini Jaka tidak hidup bersamanya. Namun cincin permata itu akan selalu ada di jari manis Pertiwi hingga nanti.
Sejak waktu itu, Pertiwi paham arti sebuah cinta. Cinta tulus dari Jaka yang dapat menghiasi cincin permata itu di jari manis Pertiwi. Dialah gadis manis tanah Banyuwangi.

Malang, 18 Mei 2014
SEBUAH CERPEN
Karya: SYAHRIR MUSTAFA SOGESIKA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar